Pengangguran?

Source: Industrial Personnel Ltd
Kalau bukan karena (masih) pengangguran saat ini, mana inget lagi deh saya pernah punya blog kalau kemaren nggak iseng-iseng searching nama sendiri di Google (narcissism attack!). Terakhir posting aja 4 tahunan yang lalu, eits dan ini tanggal 18 Januari tepat 6 tahun setelah kepergian Abah saya kepada Sang Pencipta *besok cuss ziarah*.
Iya jadi kurang lebih sudah sangat lama nganggur kalau dihitung semenjak wisuda +/- mau hampir 6 bulan! Iyaaa 6 bulan... 3 bulan lagi lahiran dah. Di saat teman-teman setingkat saya yang lain sudah menjejaki karir pertamanya, saya masih digosipin tetangga karena masih pengangguran! Ha! Welcome to Indonesian neighbourhood! Bila bisa digambarkan hubungan saya dengan tetangga-tetangga disini semacam love-hate relationship.
Love; ketika kami saling bantu sama lain dan bergotong royong (momen paling juara saat alm. Abah saya kena stroke sampai dijemput Sang Pencipta), apalagi kalau sudah urusan makan dan piknik ramai-ramai ah tetangga blok sebelah bisa kalah kompak deh :p. Hate; gossiper sejati! Asli deh kalau yang ini nih telah menjadi budaya yang menjalar dengan hebatnya di kehidupan bertetangga di negeri kita, keluarga saya itu salah satu "sasaran empuk" buat bahan gosip dan pernah banget berujung sampai ke fitnah besar yang mencoreng nama baik keluarga saya :). Anywaaay, back to the topic, PENGANGGURAN.
Seburuk apa sih kata ini di telinga kalian? dan seburuk apa sih kata ini di telinga (calon) mertua? Saya sih kalau ditanya orang kerjanya apa selalu bilang jobseeker. Haha. Padahal itu cuma bahasa kerennya tok. Response-nya bisa beragam, ada yang setelah saya bilang gitu langsung manggut-manggut sambil sumringah (mungkin kagum karena pakai bahasa Inggris dan nggak ngerti artinya, jadi mereka berpikir bahwa itu "pekerjaan yang keren"), ada yang langsung ketawa karena memang paham artinya, ada yang langsung nyemangatin dengan kalimat andalan; "semangat ya, nanti pasti juga dapat kok", kemudian ada juga yang langsung membanggakan (karir) dirinya depan muka saya. Nah, untuk yang terakhir itu biasanya langsung saya cuekin karena males dengerinnya.
Sering mikir sih, kira-kira Mama saya stress nggak ya anak sematawayangnya ini sampai sekarang tak kunjung dapat gawean. Dia sering bilang, kalau saya sudah punya pekerjaan yang tetap dan mantep, dia bakal resign dan ngurus kebun di tempat si Mbah, dan nggak pernah bosan-bosan nya nyuruh saya juga untuk banyak berdo'a dan ikhtiar. Sebenarnya Mama juga sudah nggak ingin kerja lagi dan berkeinginan untuk resign sebelum masa pensiun sedari dulu, hanya saja selalu tertahan keinginan tersebut karena berbagai alasan.
Tiap teringat kata-kata itu saya selalu merasa tertampar, and I always question myself: "Apa do'a saya kurang?", "Apa usaha saya kurang?", "Kapan keberuntungan akan berpihak?", I'll never know the answers, but there's one thing I'm keeping as faith: CONSISTENCY. Saya percaya selama saya konsisten dalam berdo'a dan ikhtiar, selanjutnya saya cuma pasrah dengan hasil yang dikasih Allah nantinya, karena selalu ada hal indah di ujung pelangi bukan? :)
Hal yang saya pahami untuk survive di kehidupan hanya bersandar pada 3 hal: Do'a, Ikhtiar, dan Tawakal atau berserah diri atas apa yang nantinya diberikan, yang kemudian kejadian, peristiwa, ataupun hasil dari do'a, ikhtiar, dan tawakal yang telah kita lakukan itulah nantinya akan membentuk sebuah takdir. Namanya takdir tiap orang pastilah berbeda-beda. Ya, contohnya dalam kasus pengangguran ini, ada yang sebulan, dua bulan udah dapat kerjaan, ada yang berbulan-bulan belum dapat kayak saya ini :), bahkan ada juga yang hampir setahun lebih.
Mencoba meyakinkan dan menghibur diri sendiri kalau ini cuma masalah waktu, this is not THE END of everything!
Merasa senasib dengan saya?
Comments
Post a Comment